RSS

Ini Sebabnya Si Jomblo dan Non-jomblo Saling Olok Saat Valentine

14 Feb

Jakarta, Saat valentine dan malam minggu, lini masa twitter seringkali dibanjiri dengan twit mengenai perseteruan jomblo dan tidak jomblo. Pada dasarnya, yang jomblo tidak masalah dengan kejombloannya dan yang sudah berpacar juga demikian. Lalu kenapa olok-olokan tersebut masih saja ada?

Untuk menjawab pertanyaan ini, para peneliti dari University of Waterloo merekrut 80 mahasiswa lajang dan yang sudah berpacaran. Peserta ditanya mengenai stabilitas hubungan dan kepuasan kehidupan asmaranya. Peserta juga ditanyai apakah orang lain sebaiknya meniru status hubungannya atau tidak?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin melihat dirinya sendiri ‘terjebak’ dalam perannya, semakin besar pula keinginan seseorang agar orang lain melakukan seperti apa yang ia lakukan. Kecenderungan ini tidak melihat seberapa bahagia seseorang, baik jomblo ataupun sudah punya pacar.

“Kita sering mengkampanyekan gaya hidup kita sendiri. Ketika membicarakan status hubungan, kita jarang mengatakan ‘menjadi single lebih nyaman buat saya’ atau ‘berpcaran sesuai dengan sifat saya’,” kata para peneliti seperti dilansir Live Science, Kamis (14/2/2013).

Penelitian kedua dilakukan pada Hari Valentine terhadap 113 mahasiswa. Peserta diminta membayangkan bagaimana sosok imajiner sebaiknya menghabiskan malam Valentine-nya. Pria diminta membayangkan karakter pria bernama Nick, sedangkan wanita diminta membayangkan karakter wanita bernama Nicole.

Dalam beberapa kasus, Nicole dan Nick disebutkan sebagai lajang atau single, namun pada kasus lain keduanya disebutkan berpacaran dengan orang lain. Para peneliti lalu menanyai peserta seberapa besar kemungkinan Nick ataupun Nicole mendapatkan malam Valentine yang menyenangkan?

Dalam laporan yang dimuat jurnal Psychological Science, peneliti menemukan bahwa peserta yang jomblo cenderung mengatakan Nick atau Nicole akan lebih bahagia merayakan valentine sendirian. Sebaliknya, peserta yang memiliki pacar cenderung mengatakan Nick atau Nicole akan lebih bahagia jika memiliki pacar.

Kepuasan akan hubungan tidak mempengaruhi penilaian, sehingga peneliti menganggap bahwa masalahnya ada pada persepsi. Para peneliti menyimpulkan bahwa kebanyakan orang memiliki penilaian yang bias saat menilai orang lain, terutama terhadap orang yang tidak seperti dirinya atau orang yang tidak disukai.

“Orang-orang mungkin menyadari kecenderungannya sendiri untuk menganggap single atau berpacaran sebagai hal yang ideal, tetapi mereka mungkin tidak menyadari bahwa hal ini dapat berdampak pada bagaimana mereka merespons orang lain dan bagaimana orang lain merespons mereka,” jelas para peneliti.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 14, 2013 in Healthy

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: